Jaksa Didesak Tuntaskan Laporan 110 Warga Soal Penyimpangan ADD Lawe Beringin Horas

DETIK MERAH PUTIH

- Redaksi

Selasa, 27 Januari 2026 - 19:04 WIB

5065 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

KUTACANE — Gelombang kekecewaan masyarakat Desa Lawe Beringin Horas, Kecamatan Semadam, Kabupaten Aceh Tenggara, atas dugaan penyelewengan dana desa oleh kepala desa mereka kembali mencuat ke permukaan. Pada Selasa, 20 Januari 2026, sejumlah tokoh masyarakat dan perwakilan warga bergerak mendatangi Kejaksaan Negeri Aceh Tenggara. Mereka menuntut kejelasan penanganan laporan dugaan penyimpangan tata kelola dan penggunaan Alokasi Dana Desa (ADD) yang telah mereka ajukan sejak Oktober 2025 silam, namun dinilai masih tanpa tindak lanjut yang transparan dan menyeluruh hingga kini.

Selama hampir lima tahun kepemimpinan Darwin Sitorus sebagai Pengulu Kute Lawe Beringin Horas, warga mengaku mencium adanya berbagai indikasi penyalahgunaan jabatan serta pengelolaan anggaran yang tidak sesuai ketentuan. Harapan masyarakat agar hukum dapat menjadi alat keadilan mulai memudar, tergantikan oleh rasa curiga bahwa ada pembiaran terselubung terhadap dugaan pelanggaran tersebut. Situasi ini diperparah oleh penilaian warga terhadap kerja Inspektorat Kabupaten Aceh Tenggara yang dianggap minim transparansi dan profesionalisme saat melakukan proses audit investigasi.

Menurut warga, saat Inspektorat melakukan pemeriksaan ke desa, tidak satu pun dari pihak pelapor dilibatkan dalam proses pengumpulan keterangan atau klarifikasi. Masyarakat tidak pernah menerima surat resmi, pemanggilan, maupun pemberitahuan lainnya sebagaimana semestinya dilakukan oleh instansi yang menjalankan audit investigatif. Bahkan, warga menangkap kesan bahwa proses audit hanya melibatkan pihak-pihak yang memiliki kedekatan atau afiliasi dengan aparatur desa, yang justru menjadi bagian dari pihak yang mereka laporkan.

Ironisnya, dari total 11 item laporan dugaan penyelewengan APBDes yang diajukan warga, hanya tiga poin yang dikoreksi oleh tim auditor, sementara delapan item lainnya seolah lenyap tanpa penjelasan atau tanggapan resmi. Ketidakterbukaan ini semakin menguatkan kekhawatiran masyarakat bahwa proses audit telah melenceng dari semangat keadilan dan keterbukaan informasi publik.

Pertanyaan-pertanyaan pun bermunculan di tengah masyarakat: Mengapa hanya tiga item yang ditindaklanjuti? Apa alasan pelapor tidak dihadirkan? Dan apakah audit tersebut benar-benar dilakukan untuk menggali fakta lapangan atau justru sekadar formalitas guna menggugurkan kewajiban administratif belaka? Warga menilai bahwa audit yang tidak melibatkan pelapor hanya akan memperluas ruang manipulasi atas kesimpulan akhir yang dikeluarkan oleh lembaga audit tersebut.

Salah satu indikasi mencolok dari dugaan penyimpangan adalah pengelolaan dana Posyandu dan program penanganan stunting. Di atas kertas, jumlah dana yang dialokasikan tergolong cukup besar untuk meningkatkan gizi anak dan ibu hamil di desa. Namun di lapangan, fakta yang ditemukan jauh dari harapan. Kegiatan Posyandu hanya digelar sekali dalam sebulan, dan setiap kali pertemuan, bantuan makanan tambahan yang diberikan amat minim: hanya satu butir telur rebus, beberapa kali roti atau susu kemasan, serta sesekali bubur kacang hijau.

Ketimpangan ini menciptakan pertanyaan krusial: ke mana larinya anggaran sebesar itu? Ketika dana tersedia, namun manfaatnya tidak terasa, dugaan bahwa terjadi korupsi bukan lagi prasangka kosong, melainkan indikasi yang patut didalami dengan audit yang menyeluruh dan melibatkan pelapor sebagai saksi kunci dari masyarakat setempat.

Buntut dari belum adanya penindakan konkret atas temuan masyarakat ini melahirkan reaksi lanjutan. Pada tanggal 27 Januari 2026, warga kembali menyampaikan laporan resmi ke Kejaksaan Negeri Aceh Tenggara. Kali ini, laporan mereka fokus pada dugaan keterlibatan langsung kepala desa dalam penarikan dana BUMK yang tidak jelas peruntukannya. Disebutkan bahwa pada tahun 2021, Pengulu Darwin Sitorus meminjam dana BUMK sebesar Rp25 juta, lalu kembali mengambil Rp28 juta pada 2026 dan sebanyak Rp16 juta di waktu berbeda. Uang tersebut, menurut pelapor, belum pernah dipertanggungjawabkan secara terbuka kepada masyarakat.

Dugaan lainnya menyangkut distribusi Bantuan Langsung Tunai (BLT) desa yang menurut APBDes seharusnya dialokasikan sebesar Rp3,6 juta per penerima per tahun, namun yang disalurkan kepada warga disebut hanya Rp250 ribu. Ketimpangan ini, menurut warga, telah berlangsung sejak 2022 hingga 2024. Hal serupa juga terjadi pada pos penguatan ketahanan pangan tahun 2025. Masyarakat sampai hari ini mengaku tidak mengetahui bentuk kegiatan maupun realisasi program tersebut, meski anggaran tercatat telah dikucurkan.

Sampai saat berita ini disusun, belum ada tanggapan resmi dari Darwin Sitorus. Upaya konfirmasi yang dilakukan pada Selasa, 27 Januari 2026, belum dijawab. Saat dihubungi, yang bersangkutan tidak bersedia memberikan keterangan apapun terkait tuduhan yang dilayangkan padanya.

Pada akhirnya, warga melihat persoalan ini tidak lagi hanya menyangkut administrasi desa atau teknis akuntabilitas anggaran publik. Namun sudah masuk pada pokok persoalan kepercayaan terhadap hukum. Jika tidak ditindaklanjuti dengan serius, warga khawatir akan terbentuk opini publik yang penuh kecurigaan terhadap kesungguhan institusi penegak hukum dalam menangani kasus yang menyentuh struktur kekuasaan di tingkat desa. Hal ini dinilai berpotensi menciptakan preseden buruk atas kinerja sekaligus kredibilitas kelembagaan negara dalam menjaga keadaban hukum yang adil dan menjangkau seluruh lapisan masyarakat secara merata.

Dengan mendesak Kejaksaan dan lembaga terkait untuk segera melakukan peninjauan ulang dan proses penyelidikan yang terbuka serta menyeluruh, masyarakat Lawe Beringin Horas ingin memastikan bahwa kebenaran dan keadilan tidak berhenti di balik meja birokrasi, tetapi sungguh hadir di tengah kehidupan warga desa yang selama ini hanya menginginkan haknya dipenuhi, bukan dikorupsi. (TIM)

Berita Terkait

Kapolda Aceh Salurkan Bantuan Korban Banjir dan Santuni Santri Berprestasi di Aceh Tenggara
Kapolda Aceh Apresiasi Kekompakan Polres Aceh Tenggara, Kunjungan Kerja Berlangsung Penuh Kehangatan dan Semangat Kebersamaan
Sigap di Tengah Bencana, Personel Polsek Lawe Sigala-gala Bantu Warga Melintas di Lokasi Banjir Bandang
Patroli Malam Polres Aceh Tenggara, Wujud Nyata Hadirnya Polisi Jaga Keamanan Masyarakat
Team Resmob Sat Reskrim Polres Agara Berhasil Ungkap Kasus Pencurian, Satu Pelaku Diamankan
Gerak Cepat Resmob Agara! Pelaku Curanmor yang Resahkan Warga Berhasil Dibekuk dalam Ops Sikat
Transaksi Sabu di Warung Tutup Terbongkar, Pria di Aceh Tenggara Diamankan Sat Resnarkoba Polres Agara
Digerebek Saat Santai Di Rumah, 3 Pria Tak Berkutik – Satresnarkoba Polres Agara Temukan Ganja Belasan Kilo

Berita Terkait

Kamis, 4 Juni 2026 - 18:19 WIB

Gerak Cepat! Tim Elite URC Jatanras Sat Reskrim Polres Simalungun Bekuk 5 Pelaku Kejahatan 3C, Sepeda Motor dan Mobil Avanza Berhasil Diselamatkan

Senin, 11 Mei 2026 - 15:21 WIB

Prestasi atau Sekadar Seremoni? Menguji Nyali RW di Balik Kasus Asusila yang Membeku di Polda Metro Jaya

Minggu, 12 April 2026 - 11:59 WIB

Komitmen Polsek Bosar Maligas Tak Pernah Padam: Mahasiswa Pengedar Sabu Dibekuk Dini Hari, Jaringan Batu Bara Dibidik

Jumat, 27 Maret 2026 - 08:11 WIB

Wartawan Ditekan Saat Investigasi, Dugaan Modus Penipuan Promo Lunas Mobil Tetap Disita Mencoreng Dunia Usaha

Selasa, 10 Maret 2026 - 16:33 WIB

Skandal Narkoba dan Pemalsuan Dokumen Mengguncang Organisasi Pers, Apakah Ada Reformasi Nyata dan Penegakan Hukum?

Sabtu, 31 Januari 2026 - 21:39 WIB

Viral!!! Atas Laporan Pelaku Pencurian, Korban Jadi Tersangka dan Ditahan di Polrestabes Medan

Senin, 26 Januari 2026 - 13:45 WIB

Kasus Hogi Sleman: Polisi Sebut Noodweer Akses, Tersangka Tak Ditahan

Berita Terbaru

Jakarta

Samsuri Calon Presiden RI 2029, Idola Rakyat Indonesia

Selasa, 9 Jun 2026 - 12:52 WIB